Pengrajin Wastafel | Wastafel Murah

Minggu, 11 Desember 2011

MAD PENETAPAN T.A 2011 PNPM Kec Garum,Kab Blitar

Garum, 31 Maret 2011
Rabu, 30 Maret 2011 telah disenggarakan MAD PENETAPAN USULAN PNPM MPd kecamatan Garum T.A 2011. Bertempat di Gedung Serba Guna kelurahan Tawangsari, acara dimulai pukul 09.30 yang di buka langsung oleh camat Garum Tri Setyoko, S.Sos, MM.
Peserta musyawarah masih sama dengan MAD PRIORITAS USULAN yang telah berlangsung 1 bulan yang lalu bersamaan dengan diselenggarakannya Musrenbang Kecamatan. Adapun wakil masing-masing desa/kelurahan yaitu terdiri dari Kepala Desa/Kelurahan, Ketua BPD/FMK, Ketua TPK, Wakil perempuan 3 orang dan 1 orang pengamat. Hasil MAD PENETAPAN USULAN T.A 2011 adalah sebagai berikut:
Usulan SPP sudah termasuk BOP UPK dan BOP TPK sebesar Rp.179.980.000,- langsung terdanai semua karena kurang dari 25% dari alokasi dana Rp.2.500.000.000,-. Untuk usulan sarpras yang terdanai hanya sampai ranking 16, yaitu :
1. Sidodadi, Jalan Telford dan TPT, Rp. 219.255.500,-
2. Bence, Jalan Telford dan TPT, Rp. 289,760,000,-
3. Karangrejo, Jalan Telford dan TPT, Rp. 243,022,500,-
4. Tingal, Jalan Aspal dan Saluran, Rp. 183,736,500,-
5. Tawangsari, Jalan Aspal, Rp. 165,828,000,-
6. Garum, Jalan Aspal, Rp. 192,851,000,-
7. Slorok, Jalan Telford, TPT dan Saluran, Rp. 161,522,000,-
8. Pojok, Jalan Aspal dan Saluran, Rp. 190,773,600,-
9. Sumberdiren, Jalan Paving dan saluran, Rp. 78,813,000,-
10. Bence, Jalan Telford dan TPT, Rp. 189,707,500,-
11.Tingal, Jalan Telford, Rp. 106,544,000,-
12.Karangrejo, Saluran Irigasi, Rp. 47,580,000,-
13.Sidodadi, Jalan Aspal, Rp. 81,942,000,-
14.Tawangsari, Bantuan Posyandu, Rp. 51,919,000,-
15.Garum, Bantuan Posyandu, Rp. 47,768,000,-
16.Sumberdiren, Jalan Aspal, Rp. 69,581,000,- karena terjadi kekurangan dana maka kelurahan Sumberdiren harus menambah swadaya masyarakat sebesar Rp.583.600,-.
Untuk ranking 17 dan 18 yaitu usulan desa Slorok dan Pojok tidak dapat terdanai.




PNPM Mandiri Perdesaan Th 2009 di Kecamatan Kalikajar Wonosobo

1.1. Latar Belakang


Kemiskinan dan Pengangguran*). Sehingga tahun 2009 Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo mendapatkan program PNPM mandiri.
PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. PNPM Mandiri Perdesaan merupakan kelanjutan Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang selama ini dinilai berhasil. Di antara keberhasilan PPK adalah penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin, efisiensi dan efektivitas kegiatan, dan keberhasilannya menumbuhkan kolektivitas dan partisipasi masyarakat.


Visi PNPM Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin perdesaan.
• Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.
• Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilisasi sumber daya yang ada di lingkungannya, mampu mengakses sumber daya di luar lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Misi PNPM Mandiri Perdesaan adalah:
(1) peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaannya;
(2) pelembagaan sistem pembangunan partisipatif;
(3) pengefektifan fungsi dan peran pemerintahan lokal;
(4) peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat;
5) pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan.
Dalam rangka melaksanakan visi dan misi PNPM Mandiri Perdesaan, strategi yang dikembangkan PNPM Mandiri Perdesaan yaitu menjadikan rumah tangga miskin (RTM) sebagai kelompok sasaran, menguatkan sistem pembangunan partisipatif, serta mengembangkan kelembagaan kerja sama antar desa. Dari visi, misi, dan strategi maka PNPM Mandiri Perdesaan berupaya menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan sebagai pendekatan yang dipilih yaitu menuntaskan tahapan pelembagaan sistem pembangunan partisipatif.

1.2. Tujuan

Tujuan Umum PNPM Mandiri Perdesaan adalah
meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.


Tujuan khususnya meliputi:
a. Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan atau kelompok perempuan, dalam pengambilan keputusan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pelestarian pembangunan,
b. Melembagakan pengelolaan pembangunan partisipatif dengan mendayagunakan sumber daya lokal,
c. Mengembangkan kapasitas pemerintahan lokal dalam memfasilitasi pengelolaan pembangunan partisipatif,
d. Menyediakan prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi yang diprioritaskan oleh masyarakat,
e. Melembagakan pengelolaan dana bergulir,
f. Mendorong terbentuk dan berkembangnya Badan Kerja Sama Antar Desa dalam pengelolaan pembangunan. ma
g. Mengembangkan kerja sama antar pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan perdesaan.

1.3. Prinsip Dasar PNPM Mandiri Perdesaan

Sesuai dengan Pedoman Umum, PNPM Mandiri Perdesaan mempunyai prinsip atau nilai-nilai dasar yang selalu menjadi landasan atau acuan dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan yang akan diambil dalam pelaksanaan rangkaian kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan. Nilai-nilai dasar tersebut diyakini mampu mendorong terwujudnya tujuan PNPM Mandiri Perdesaan. Prinsip-prinsip itu meliputi:

1. Bertumpu pada pembangunan manusia. Pengertian prinsip bertumpu pada pembangunan manusia adalah masyarakat lebih memilih kegiatan yang berdampak langsung terhadap upaya pembangunan manusia daripada pembangunan fisik semata.

2. Otonomi. Pengertian prinsip otonomi adalah masyarakat memiliki hak dan kewenangan mengatur diri secara mandiri dan bertanggung jawab, tanpa intervensi negatif dari luar.

3. Desentralisasi. Pengertian prinsip desentralisasi adalah memberikan ruang yang lebih luas kepada masyarakat untuk mengelola kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan yang bersumber dari pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kapasitas masyarakat.

4. Berorientasi pada masyarakat miskin. Pengertian prinsip berorientasi pada masyarakat miskin adalah segala keputusan yang diambil berpihak kepada masyarakat miskin.

5. Partisipasi. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam setiap tahapan proses, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pelestarian kegiatan dengan memberikan tenaga, pikiran, dana, waktu maupun barang.

6. Kesetaraan dan keadilan gender. Pengertian prinsip kesetaraan dan keadilan gender adalah masyarakat baik laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati manfaat kegiatan pembangunan, kesetaraan juga dalam pengertian kesejajaran kedudukan pada saat situasi konflik.

7. Demokratis. Pengertian prinsip demokratis adalah masyarakat mengambil keputusan pembangunan secara musyarawah dan mufakat.

8. Transparansi dan Akuntabel. Pengertian prinsip transparansi dan akuntabel adalah masyarakat memiliki akses terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif.

9. Prioritas. Pengertian prinsip prioritas adalah masyarakat memilih kegiatan yang diutamakan dengan mempertimbangkan kemendesakan dan kemanfaatan untuk pengentasan kemiskinan.

10. Keberlanjutan. Pengertian prinsip keberlanjutan adalah bahwa dalam setiap pengambilan keputusan atau tindakan pembangunan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemeliharaan kegiatan harus telah mempertimbangkan sistem pelestariannya.

1.4. Pendanaan

o Tahun 2009 ini, alokasi dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan untuk Kecamatan Kalikajar kabupaten Wonosobo sebesar Rp. 3000.000.000, (tiga milyar rupiah).
KEADAAN DAERAH KECAMATAN KALIKAJAR

Kecamatan Kalikajar merupakan salah satu dari 15 Kecamatan di Kabupaten Wonosobo Yang secara
Geografis dibatasi:

Sebelah utara : Kec. Kertek
Sebelah Selatan : Kec. Sapuran
Sebelah Barat : Kec. Kaliwiro dan Selomerto
Sebelah Timur : Kec. Sapuran dan Kab. Temanggung

Wilayah Kecamatan Kalikajar Terletak Pada Ketinggian 600 s/d 1.300 m Dpl
1.Jumalah Penduduk : 67.870 Orang
Terdiri Dari :
Laki –Laki : 34.050 Orang
Perempuan : 33.820 Orang

2.Luas Wilayah : 8.329.646,00 Ha
a. Tanah kering. 6.824,662 Ha
Pekarangan/Perumahan : 262,869 Ha
Tegalan/Perkebunan : 4.539,087 Ha
Kolam : 8,390 Ha
Padang Gembala : 2,400 Ha
Hutan Negara : 1.664,682 Ha
Lain – lain : 218,224 Ha

b. Tanah Sawah :
Irigasi Tehnis : 342,630 Ha
Irigasi Setengah Tehnis : 18,411 Ha
Irigasi Sederhana : 1.070,085 Ha
Sawah tadah hujan : 73,860 Ha
c. Jumlah Desa / Kelurahan / Kades / Kalur dan Perangkat lainnya.

- Jumlah Desa : 18 Desa
- Jumlah Kelurahan : 1 Kelur
- Jumlah Kep desa : 18 Orang
- Jumlah Kep Kelurahan : 1 Orang
- Jumlah Sek Des/ Sek Lur : 14 Orang.
- Jumlah Dusun : 82 Dusun
- Jumlah RT/RW : 412 / 150 Unit

Sabtu, 10 Desember 2011

Mengenal Lebih Dekat PNPM Kec Petarukan Pemalang

Penguatan kelembagaan secara demokratis

Salah satu tujuan PPK adalah untuk mendorong terciptanya demokratisasi di pedesaan melalui peningkatan partisipasi warga desa seluas-luasnya dalam pengambilan keputusan diberbagai pertemuan desa. Tujuan PPK tersebut dirancang untuk merubah dominasi elit desa dalam pengambilan keputusan pembangunan di desa selama masa orde baru. Pemanfaatan peluang untuk menumbuhkembangkan proses demokratisasi di desa tersebut amat tergantung dari kesadaran berbagai pihak seperti Camat, PjOK, Kepala Desa, LMD, BPD dan warga desa yang bersangkutan.

Partisipasi Kelompok Perempuan

PPK sebenarnya dirancang untuk memberi kesempatan kepada warga desa terutama penduduk miskin dan kelompok perempuan agar dapat terlibat seluas-luasnya dalam program ini. Disamping itu mengharapkan para pelaksana ditingkat kecamatan dan desa agar lebih peka baik terhadap kebutuhan mereka sendiri maupun kendala kelompok tersebut untuk berpartisipasi.

Selayang Pandang UPK-PPK Kecamatan Petarukan

Program Pengembangan Kecamatan (PPK)yang telah dimulai pada tahun 1998, merupakan program pembangunan wilayah dan pedesaan dengan tujuan utamanya meningkatkan pemberdayaan masyarakat desa.PPK menerapkan pendekatan partisipatif (participatory approach)dalam program pembangunan di wilayah administrasi pemerintah kecamatan . PPK mengutamakan peran serta kelompok masyarakat miskin dan kaum perempuan dalam program perencanaan, pelaksanaan, pelestarian, pemantauan dan evaluasi program. Hal inilah yang mendorong peran serta masyarakat / kelompok dalam pelestarian kegiatan utamanya pada kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam untuk Perempuan (SPP). Kecamatan Petarukan yang telah berperan aktif dalam PPK fase I dan fase III telah menyelesaikan siklus kegiatan dengan hasil yang beragam, seperti sarana physik, kegiatan untuk peningkatan ekonomi dan pelayanan kesehatan dasar. Pada sarana physik yang telah dibangun diantaranya adalah perbaikan jalan desa, jembatan, gedung TK/madrasah, saluran draenase/irigasi, bak penampungan air . Pada pelayanan kesehatan dasar, yang telah dikerjakan diantaranya adalah dengan perbaikan sarana Posyandu dan pemberian makanan tambahan untuk anak balita. Sedang pada kegiatan peningkatan ekonomi, sepanjang tahun 2009 sampai dengan bulan Desember 2009 ini telah menyalurkan pinjaman kepada kelompok sebesar Rp.506.000.000,- yang diperuntukkan untuk kegiatan UEP dan Rp.461.000.000,- yang diperuntukkan untuk kegiatan SPP.

Transparansi dan Akuntabilitas

Setiap bulan sekali UPK-PPK Kecamatan Petarukan melakukan perguliran yang sebelumnya telah dilakukan "analisis kelayakan" oleh tim verifikasi bersama pengurus UPK. Hingga saat ini tingkat kelancaran pengembalian kegiatan UEP secara komulatif sebesar 66% dari total dana pinjaman sebesar Rp.1.576.518.000,- dengan saldo pinjaman sebesar Rp.717.354.540,- dan 85 % untuk kegiatan SPP dari total dana pinjamanan sebesar Rp.597.400.000,- dengan saldo pinjaman sebesar Rp.291.618.500,-. Dan berkat prinsip transparansi & akuntabilitas yang selalu dipegang pengurus UPK, pengurus UPK masih dipercaya masyarakat untuk mengelola keuangan UPK " setiap tahun kita melakukan laporan pertanggungjawaban dan laporan rencana penggunaan dana ...semuanya dilaporkan secara transparan dan jelas " ungkap Edi Kuspriyanto selaku sekretaris UPK Kecamatan Petarukan.

Permasalahan Tunggakan

Tidak dipungkiri bahwa ada diantara anggota kelompok yang masih banyak menunggak, namun dengan kiat sabar dan telaten pengurus UPK memberikan kemudahan cara pembayaran angsuran seperti penjadwalan ulang angsuran/restrukturisasi pinjaman yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan inventarisasi kelompok, anggota peminjam, jumlah pinjaman dan tunggakan serta permasalahan yang dihadapi kelompok dan anggotanya. Hasil inventarisasi dan investigasi lapangan ini digunakan sebagai dasar dalam mengambil kebijakan terhadap kelompok yang menunggak. Penanganan pinjaman bermasalah ini masih tetap berkisar pada tindakan penagihan. Selain pengurus UPK, pihak lain yang terlibat dalam penagihan tersebut adalah dari aparat kecamatan/PjOK , BP UPK dan Kepala Desa.

Mekanisme perguliran di UPK

Pertama, kelompok mengisi form permohonan pinjaman yang telah disediakan UPK , dilengkapi dengan berkas : fotocopy KTP semua anggota, pernyataan kesepakatan tanggung renteng dan rencana pengembalian angsuran. Kedua, Tim verifikasi bersama pengurus UPK mengadakan survey lapangan kepada kelompok tersebut. Ketiga, kelompok yang layak setelah lulus verifikasi, segera dilakukan pencairan pinjaman. Keempat, Ketua kelompok menandatangani berita acara/ perjanjian pinjaman kepada UPK dengan dibubuhi materai Rp.6.000.,-. Kelima, Ketua kelompok memperoleh buku angsuran pinjaman sebagai arsip pembukuan di tingkat kelompok.

Sumber : UPK PNPM Patarukan

PNPM Jadi Andalan Pembangunan Desa



Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMPD) Kabupaten Natuna, Chaidir Char, mengatakan bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) menjadi andalan dalam pembangunan desa yang mandiri. Hal ini sesuai dengan target BPMD Natuna meski ditengah keterbatasan personel dan sarana prasana yang ada.

“Ini target kita untuk menyukseskan semua program yang ada, termasuk program yang dicanangkan Pemprov Kepri yakni memandirikan semua desa dan kelurahan hingga tahun 2011,” kata Chaidir.
Dijelaskan,terwujudnya kemandirian tersebut merupakan visi BPMD Natuna. Karena itu, BPMD tidak henti-hentinya memberikan pembinaan, sosialisasi dan kegiatan lainnya agar semua program kegiatan terealisasi. Selain itu, juga dengan melakukan monitoring kegiatan BPMD di lapangan.
Dikatakan, hasil dari monitoring cukup menggembirakan, meski masih terdapat beberapa kendala yang menimbulkan benturan dalam proses penyelesaian program menyangkut sumber daya manusia (SDM) masyarakat di desa dan kelurahan. Terlebihnya, terkait dengan penggunaan dana PNPM Mandiri Pedesaan di Kabupaten Natuna yang mencapai Rp 11,5 Miliar.
“Selain dana PNPM Mandiri sebesar Rp 11,5 Miliar yang merupakan cost sharing dari APBD dan APBN. Kita juga mendapat dana program pengembangan sistem pembangunan partisipatif Rp 4,8 Miliar,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan bahwa, PNPM Mandiri Pedesaan sudah dilaksanakan sejak 2007 lalu dan merupakan kelanjutan dari Program Pengembangan Kecamatan (PKK) tahun 2003. Adapun hasil pembangunan dari 2003 sampai 2010 diantaranya, saluran air bersih sepanjang 66.674 Meter, tambatan perahu sepanjang 4.340 Meter, jalan sepanjang 20.004 Meter, jembatan kayu sepanjang 1.339 Meter dan jembatan beton sepanjang 56 Meter.
Lainnya, batu miring sepanjang 707 Meter, posyandu 46 unit, mesin listrik desa 15 unit, sumur gali 5 unit, pasar desa 5 unit, gedung serba guna 5 unit, PAUD 14 unit, TK 16 unit dan MDA 13 unit. Kemudian, ada pengadaan mobil transportasi desa 4 unit, biaya siswa dan honor guru 280 orang dan kelompok SPP sebanyak 356 kelompok dengan jumlah dana yang tersalur Rp 15.837.281.000 dengan tingkat pengembaliannya sebesar 95 persen.
Ditambahkan, dalam peningkatan kinerja program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat seperti PNPM Mandiri, pemerintah berupaya mengintegrasikan perencanaan pembangunan partisipatif menjadi sebuah program kerja yang bersifat strategis. Dan perencanaan partisipatif yang dikembangkan dalam PNPM Mandiri Perdesaan diintegrasikan dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbang).
Dengan adanya dana tersebut, lanjutnya, program pembangunan di Kabupaten Natuna untuk menanggulangi kemiskinan sedikit demi sedikit tertuntaskan. Apalagi, untuk pelaksanaanya masih tetap dilakukan secara langsung oleh masyarakat.
“Kita akan terus mengakomodir pelaksanaan pembangunan pemerintah daerah. Untuk program PNPM kita akan tetap berjalan seperti biasanya, dan sistem pangawasan masih dilakukan fasilitator kabupaten dan kecamatan serta pihak-pihak lain yang bergerak dalam program PNPM Mandiri,” ujarnya.
Kabid Usaha Ekonomi Masyarakat BPM Natuna, Hetrisian menambahkan, bahwa saat ini telah dipersiapkan komponen program peningkatan ketahanan ekonomi rakyat yang sasarannya adalah kelompok masyarakat pelaku usaha kecil dan menengah. Sedangkan komponen program tersebut merupakan program yang secara khusus bertujuan menanggulangi dampak krisis serta mencegah lebih jauh dampak yang lebih buruk akibat krisis berkepanjangan.
Ungkapnya, sepanjang 2010 BPMD Natuna telah memberikan pembinanan bagi usaha kecil dan pengerajin di Natuna dengan bantuan alat serta pelatihan teknis usaha kecil. Diantaranya, 6 unit alat pembuat kerupuk atom, alat pemotong kerupuk serta pres plastik kompit satu paket yang dibagi ke kelompok usaha di Pulau Tiga, Midai serta Sepempang.
‘Kelompok kerja kerajinan usaha kecil dan menengah dibagi tiap desa dan kecamatan. Masing-masing kelompok beranggotakan 14 orang di 12 Kecamatan yang ada di Natuna,” terangnya.
Lanjutnya, kegiatan tersebut harus dipahami sebagai suatu kebijaksanaan jangka pendek atau crash program, yang mempunyai kaitan ke depan dalam rangka pengembangan kapasitas lebih lanjut. Sehingga demikian, program tersebut merupakan sebuah simultan untuk mendorong produktivitas dan kesinambungan pelaksanaan serta pelestarian hasilnya.
Jelasnya lagi, bahwa program peningkatan ketahanan ekonomi rakyat diutamakan bagi para pelaku kegiatan ekonomi produktif rakyat di sektor pertanian rakyat, kerajinan rakyat dan industri kecil menengah, serta jasa dan perdagangan kecil menengah, terutama yang ada di daerah pedesaan hingga tahun 2012.
“Dengan program ini, diharapkan kegiatan ekonomi rakyat yang akhir-akhir ini mengalami kelesuan dapat bangkit kembali. Dan, perlu disadari bersama bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, program tersebut belum secara keseluruhan menjangkau semua lapisan masyarakat. Untuk itu keterlibatan semua pihak dalam menangani permasalahan ini sangat diperlukan,” pungkasnya. Riky R
 

Buka Isolasi Warga dengan Jembatan Gantung

KPP Samaturu Raih Penghargaan Menkokesra

JAKARTA, FAJAR -- Runtuhnya jembatan Tenggarong, baru-baru ini, telah mengusik kita, betapa pentingnya sebuah pemeliharaan infrastruktur. Selama ini, pemeliharaan seolah-olah hanya tanggung jawab pemerintah, namun masyarakat Sinjai telah mematahkan anggapan itu.


INI sangat disadari masyarakat di Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai. Sebuah desa dengan penduduk yang mayoritas petani, justru telah menerapkan prinsip pemeliharaan infrastruktur di desanya sejak lama. Ini pulalah yang mengantarkan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) Samaturu meraih penghargaan sebagai KPP terbaik nasional oleh Menkokesra, HR Agung Laksono pada penutupan PNPM Mandiri di Hotel Sultan kemarin.

Penghargaan ini, diterima Ketua KPP Samaturu, Samtuo Jaya. Usai menerima penghargaan, Samtuo mengatakan, penghargaan tersebut merupakan penghargaan untuk seluruh masyarakat Desa Arabika. KPP, sebut dia adalah suatu lembaga yang dibentuk masyarakat yang bertujuan memelihara prasarana yang telah dibangun di desa. Hal ini dimaksudkan agar manfaat yang dapat diterima masyarakat tetap optimal dan berkelanjutan dalam rangka menuju peningkatan kemaslahatan, baik ekonomi maupun sosialnya.

Beberapa hasil yang dicapai KPP tersebut di antaranya, masyarakat dapat menikmati air bersih yang berkelanjutan, irigasi, dan jalan tani, sehingga membuka daerah dari keterisolasian. Menurutnya, dengan adanya irigasi, produksi meningkat dari 4,5 ton menjadi 6,5 ton per satu kali panen, pemeliharaan ikan melalui mina padi, sebagian kecil sawah yang sebelumnya hanya bisa ditanami sekali setahun menjadi dua kali setahun. Bahkan, dapat ditanami palawija seperti, buncis, kacang panjang, wortel, tomat, bawang, kol dan lain-lain.

Demikian pula dengan jalan usaha tani. Kemudahan pengangkutan produksi dari areal sawah atau kebun yang sebelumnya memerlukan waktu kurang lebih tiga hari sehingga menimbulkan kerusakan dan  menurunkan kualitas hasil, sehingga harga jualnya lebih rendah. Saat ini, waktu yang diperlukan tinggal setengah hari, karena kendaraan roda empat bisa langsung angkut, sehingga kualitasnya tetap terjaga dan harga jualnya lebih tinggi serta biaya angkut jadi lebih rendah.

Samtuo juga mengungkapkan, dari pelayanan kesehatan, masyarakat menjadi lebih meningkat dengan hadirnya posyandu. Untuk sarana air bersih, sebelumnya mesyarakat mengambil air di tempat tertentu yang lokasinya cukup jauh dan curam dengan jarak  500 meter hingga dua kilometer. Namun dengan telah terbangunnya prasarana air bersih (perpipaan gravitasi) masyarakat yang kurang mampu sisa mengambil air pada lokasi yang jaraknya 200 meter. Sedangkan bagi yang mampu mengadakan pipa bisa dilayani langsung ke rumahnya dengan besaran iuran yang berbeda.

Sumber dana, kata Samtuo, mereka peroleh dari pengelolaan air bersih, upah hasil kerja dengan pihak ketiga (perorangan, swasta dan pihak ketiga), pengelolaan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), pengelolaan irigasi, hasil pengelolaan kompos, sumbangan material, maupun dana dari pengusaha angkutan, khususnya prasarana umum seperti, jalan dan jembatan pada saat dilakukan pemeliharaan. "Semua dikelola secara transparan melalui musyawarah dan pembukuan yang dapat diakses semua pihak. Dari tahun ke tahun selalu diupayakan adanya peningkatan pelayanan bagi masyarakat dan pengelolanya diberikan insentif sesuai kemampuan keuangan yang ada," ujar Samtuo.

Asisten Teknik Kabupaten (ATK) PNPM Pisew Kabupaten Sinjai, Ir Andi Amar yang mendampingi Samtuo mengatakan, kehadiran jembatan dengan panjang 82 meter ini, sebagai sarana penghubung masyarakat Dusun Tonrong dan Laha-laha Sinjai dan Dusun Bora, Kabupaten Bone ke pasar dan ke kota untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti gula, garam dan bahan toko lainnya.

Selain itu, lanjutnya, sebagai prasarana penghubung untuk kebutuhan sosial ekonomi lainnya  ke kota kecamatan dan kabupaten. Dengan berfungsinya jembatan ini, akan memperpendek waktu tempuh bagi petugas pelayanan kesehatan dan petugas lainnya melayani masyarakat di dua dusun tersebut yang sebelumnya harus ditempuh enam jam dengan jalan kaki karena lewat dusun terasa dengan kondisi jalan rusak dan banyak sungai yang belum ada jembatan, setelah selesainya jembatan gantung tersebut maka dapat ditempuh sejam dengan melewati jalur Turungan Baji, Dusun Soppeng.

"Bahkan, mampu menekan biaya transportasi petani yang dulunya, biaya ojek ke pasar sebelumnya Rp50.000, setelah adanya jembatan turun menjadi Rp10.000," ujar Amar.

Amar menambahkan, jembatan tersebut dibangun dengan partisipasi seluruh masyarakat yang akan menggunakan, tanpa melihat batas wilayah. Seluruh potensi berupa tenaga kerja bisa sampai 20 orang dikerahkan turun bekerja secara bergantian termasuk ibu-ibu, dana, material sehingga volume pekerjaan jauh melebihi dari biaya yang sesungguhnya yaitu berupa penambahan volume beton, sling utama yang lebih besar dari rencana.

Menko Kesejahteraan Rakyat HR Agung Laksono mengatakan, PNPM Mandiri merupakan salah satu program unggulan pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Tahun 2011 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan PNPM Mandiri sejak ditetapkan sebagai program nasional yang merupakan program penguatan dan perluasan dari program pengembangan kecamatan (PPK) dan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan (P2KP). Untuk 2012, pemerintah kembali mengalokasikan dana untuk PNPM. Jumlah dana yang dialokasikan pemerintah dalam PNPM Mandiri 2012, akan meningkat dari Rp11 triliun menjadi Rp15 triliun. (asw)

Sumber Berita : PNPM Mandiri ORG